Beranda / sains / Mengapa Manusia Tidak Memiliki Ekor?

Mengapa Manusia Tidak Memiliki Ekor?

aa1xifea.jpg

Mengapa Manusia Tidak Lagi Memiliki Ekor?

Olivia, seorang anak berusia 12 tahun dari Belanda, mengajukan pertanyaan yang menarik: “Mengapa manusia tidak lagi memiliki ekor?” Pertanyaan ini menyentuh inti dari siapa kita sebagai manusia. Untuk menjawabnya, kita perlu melihat kembali ke masa lalu dan memahami bagaimana evolusi membentuk tubuh kita.

Bayangkan keluargamu. Jika kamu memiliki sepupu, maka kamu dan sepupumu memiliki kakek dan nenek yang sama. Mereka adalah leluhur kalian berdua. Sekarang bayangkan mundur lebih jauh lagi ke masa lalu. Kamu dan kerabat jauhmu juga memiliki nenek moyang yang sama dalam silsilah keluarga besar. Bahkan, semua makhluk hidup di Bumi berasal dari satu nenek moyang yang sama, yang hidup sekitar 3 sampai 4 miliar tahun yang lalu.

Kehidupan di Bumi seperti pohon keluarga raksasa. Anjing dan kucing masih berkerabat, begitu juga kamu dengan tupai, ikan, bahkan dinosaurus. Semua makhluk hidup yang hidup sekarang maupun yang pernah hidup di masa lalu, berasal dari satu leluhur yang sama.

Empat miliar tahun bukanlah waktu yang mudah dibayangkan. Untuk gambaran, satu miliar bola golf bisa memenuhi sebuah stasiun kereta besar. Bayangkan ada empat tumpukan sebesar itu. Ini menunjukkan betapa lamanya waktu tersebut.

Jika kita melihat ke periode yang lebih “baru” dalam sejarah evolusi, kita termasuk dalam kelompok kera. Kita punya leluhur yang sama dengan kera yang masih hidup saat ini, seperti simpanse, gorila, orangutan, dan owa. Meskipun simpanse dan gorila memiliki banyak ciri yang mirip, manusia dan simpanse sebenarnya bersaudara. Hal ini berarti, dibandingkan dengan spesies lain, kita memiliki hubungan kekerabatan paling dekat dengan simpanse.

Banyak hal telah terjadi dalam garis evolusi kita. Tubuh kita mengalami perubahan besar. Struktur anatomi kita berkembang sedemikian rupa sehingga memungkinkan kita berjalan tegak, menggunakan alat, berbicara, serta mengembangkan kemampuan lain yang membuat manusia menjadi spesies yang unggul.

Namun, semua kera, termasuk kita, masih disatukan oleh sejumlah ciri khas. Misalnya, semua kera memiliki otak yang relatif besar, meskipun otak manusia merupakan yang terbesar. Selain itu, seluruh kera juga memiliki bentuk tubuh yang memungkinkan postur tegak. Dada kita jauh lebih vertikal dibandingkan anjing, bahkan dari monyet. Struktur tubuh inilah yang menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan evolusi kita.

Kita juga memiliki pola alur pada gigi geraham bawah. Jika diraba, lima tonjolan kecil di permukaannya tersusun membentuk huruf Y, yang dikenal sebagai pola Y-5. Pola ini hanya ditemukan pada kelompok kera. Terakhir, semua kera memiliki kemampuan memanjat pohon dan bergelantungan di dahan. Struktur lengan dan bahu kita pun masih mempertahankan ciri-ciri tersebut, memungkinkan kita melakukan gerakan memanjat pohon dengan aman.

Ciri-ciri ini kita miliki karena kita berasal dari satu leluhur kera yang sama dengan kera, yang diperkirakan hidup sekitar 20 hingga 30 juta tahun lalu.

AA1XimwN

Bukti terbaik tentang leluhur kera berasal dari fosil, yaitu sisa-sisa makhluk hidup purba yang telah mengalami proses panjang hingga berubah menjadi batu. Contohnya adalah spesies kera bernama Ekembo heseloni asal Afrika. Kera ini secara tampilan sebenarnya lebih mirip monyet. Spesies ini diketahui memanjat pohon, tetapi kemungkinan tidak bergelantungan di bawah dahan seperti kera modern. Alih-alih berayun, mereka lebih sering berjalan di atas cabang.

Temuan ini mengejutkan karena semua kera yang hidup saat ini memiliki ciri tubuh yang memungkinkan mereka bergelantungan di dahan. Namun, para ilmuwan mengetahui bahwa Ekembo heseloni merupakan kera karena dua ciri utamanya. Pertama, spesies ini memiliki pola Y-5 yang khas pada geraham bawahnya, sama seperti yang kita miliki. Kedua, ia tidak memiliki ekor. Ketiadaan ekor merupakan salah satu ciri pembeda paling jelas yang dimiliki semua kera.

Mengapa semua kera tidak memiliki ekor? Sampai saat ini, kita hanya memiliki hipotesis. Salah satu dugaan menyebutkan bahwa ketika kera-kera paling awal mulai beralih ke postur yang lebih tegak dan mengubah cara mereka bergerak di pepohonan, ekor menjadi semakin kurang berguna. Oleh karena itu, ada kemungkinan evolusi “mengalihkan” fungsi otot-otot yang sebelumnya digunakan untuk menyangga ekor, lalu berubah fungsi dan menjadi bagian dasar panggul.

Dasar panggul adalah kumpulan otot di bagian bawah tulang belakang yang membantu organ-organ dalam tubuh melawan gaya gravitasi, sehingga tetap berada di tempatnya dan tidak “turun” ke bawah. Fungsinya sangat penting, seperti yang bisa kita bayangkan.

Hipotesis lain menduga bahwa hilangnya ekor pada kera-kera awal mungkin bermula dari sebuah kesalahan genetik. Dalam sebuah studi tahun 2024, para peneliti menambahkan satu potongan pendek DNA yang ditemukan pada manusia dan kera lain (tetapi tidak pada primata lain) ke dalam tikus. Hasilnya, tikus-tikus tersebut berkembang dengan ekor yang sangat pendek, bahkan ada yang hampir tidak memiliki ekor sama sekali.

Jadi, meskipun memiliki ekor mungkin terdengar menarik, leluhur kita mungkin kehilangan ekor karena memang tidak lagi membutuhkannya. Atau, bisa jadi sesederhana karena kesalahan genetik yang kebetulan saja terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *